Cinta itu rumit. Sesederhana itu.

Iklan

Pawang

Di jembatan penyeberangan yang kulalui tadi malam, ada seorang pak tua yang berjualan sekoteng duduk termenung di depan barang dagangannya. Sejujurnya, bukan kali ini saja aku melihatnya, karena hampir setiap hari ketika habis pulang kerja, aku selalu melewati jembatan penyeberangan itu.

Lelaki tua pedagang sekoteng itu hanya duduk, kadang jongkok, dan menundukkan kepalanya seakan ia diam di atas jembatan itu bukan untuk berdagang, tapi mengemis!

Aku perhatikan tanggungannya, tak ada hal yang menarik. Alih-alih aku menjadi mual karena melihat peralatan dagangannya sudah tidak layak pakai: kaleng susu kental manis yang hitam terkena debu dan karatan, tempat menyimpan roti yang juga dipenuhi debu, serta gelas-gelas yang kotor. Tidak ada samasekali lilin untuk menerangi barang dagangan. Terkecuali lampu yang tersorot dari proyek jalan layang yang sedang dibangun.

Karena penasaran, suatu hari aku sempat ingin bertanya kepada lelaki tua itu. Namun, hal itu selalu saja aku urungkan kembali. Pernah suatu saat aku memergokinya sedang menaiki tangga jembatan penyeberangan yang biasa ia dan aku lalui. Dengan perlahan, selangkah demi selangkah ia menaiki setiap anak tangga, itupun dengan sangat susah payah karena, selain menaikan badannya sendiri, ia juga membawa tanggungan barang dagangannya.

“Kasihan sekali pak tua itu”, pikirku.

***

Seperti biasa, setelah pulang kantor, aku selalu menyempatkan diri nongkrong sebentar untuk membeli sesuatu di warung yang tidak jauh dari kantor. Terkadang aku membeli camilan, atau sesekali membeli minuman kemasan. Aku sendiri tidak pernah merokok. Tidak seperti beberapa teman kerjaku yang lainnya. Namun, pedagang pemilik ruko itu pernah bertanya, kenapa aku tidak suka merokok.

“Menghisap polusi udara di kota ini sudah cukup, Pak! Jadi untuk apa lagi aku menghisap rokok?” kataku sambil cengengesan.

“Bilang saja kamu tak mampu membelinya!” ketus pemilik ruko itu sambil tertawa.

“Sialan!” kataku dalam hati.

Sambil duduk sebentar di ruko itu, aku perhatikan pak tua penjual sekoteng itu sudah duduk termenung seperti biasa di jembatan penyeberangan. Jarak antara ruko dengan jembatan penyeberangan itu tidak jauh, hanya beberapa langkah saja untuk bisa menaiki anak tangga pertamanya.

“Jangan melamun, Mas. Baru putus cinta ya?” kata pemilik ruko itu sambil tertawa.

“Bapak kenal sama pak tua yang jualan sekoteng itu?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Pak tua yang mana?” katanya penasaran.

“Itu yang di atas jembatan penyeberangan” kataku sambil memicingkan mata ke arah lelaki tua penjual sekoteng itu.

“Oh. Tidak tahu. Emang kenapa?

“Enggak. Aneh saja melihatnya.”

“Aneh gimana maksudnya?” tanyanya semakin penasaran.

“Dia seperti bukan pedagang. Setiap kali aku melewatinya, ia hanya duduk termenung menundukkan kepalanya,” kataku sambil mengunyah camilan yang baru saja kubeli.

Sambil membereskan barang dagangannya, pemilik ruko itu menajam-najamkan penglihatannya ke arah pak tua penjual sekoteng di jembatan penyeberangan. Namun, ia hanya melihat punggung dan kepalanya yang tertutup oleh topi dan sebagian tanggungan dagangannya yang samar-samar karena hampir tidak terlihat samasekali, terhalangi oleh ram yang menempel di jembatan penyeberangan tersebut.

“Kalau bukan pedagang, lalu apa?” kata si pemilik ruko.

“Entahlah. Tapi, kalaupun ia pedagang, kasihan sekali dia, sudah setua itu masih jualan sekoteng dan tidak ada yang beli.”

“Namanya juga usaha, Mas!” seru si pemilik ruko sambil tersenyum.

“Yah, begitulah.”

Sore itu jalanan macet seperti biasa. Mobil dan motor hanya bergerak sebentar, berhenti, bergerak lagi, lalu berhenti lagi. Begitu seterusnya. Kata si pemilik ruko, setelah ada proyek pembuatan jalan layang kemacetan di daerah ini semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika waktu berangkat dan pulang kerja. Baru sepi ketika para pekerja itu sudah pada pulang di rumahnya masing-masing, sekitar jam sebelas malam. Mendengar hal itu aku sendiri manggut-manggut karena memang sebelum ada proyek jalan layang ini, aku bekerja di tempat lain sehingga aku tidak tahu betul keadaan jalan ini sebelumnya. Meskipun pada umumnya setiap orang tahu belaka bagaimana kemacetan di kota ini dari dulu sampai sekarang belum pernah bisa teratasi.

Setelah mampir dan bercakap sebentar, kemudian aku memutuskan untuk segera pulang.

“Semuanya berapa?”

“Delapan ribu lima ratus, Mas.”

Lalu aku keluarkan selembar lima ribu rupiah dan tiga uang logam seribuan dan lima ratus rupiah dari saku celanaku. “Uangnya pas ya, Pak,” kataku sambil menaruh uang itu di depannya. “Terimakasih.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan, Mas.” Kata si pemilik ruko sambil tersenyum.

Sejurus kemudian aku berjalan menuju ke arah jembatan penyeberangan. Dan di saat menaiki anak tangga jembatan penyeberangan itu tiba-tiba rasa penasaranku terhadap pak tua pedagang sekoteng itu muncul kembali. Tapi kali ini bukan hanya tentang apakah ia seorang pedagang atau bukan. Pikiranku mengembara ke dalam kehidupanku sendiri, tepatnya masa depanku yang belum menentu.

“Seandainya aku seperti pak tua itu,” pikirku, “apakah anak-anak dan cucuku nanti akan membiarkanku seperti itu?”

Mengingat hal itu bulu kudukku meremang. Dan, pada akhirnya aku sendiri tidak mau membayangkan lagi hal seperti itu.

“Na’udzubillahimindzalik.” kataku dalam hati.

Saat aku mulai mendekati pak tua pedagang sekoteng itu, aku bertekad untuk memenuhi rasa penasaranku. Setidaknya aku akan pura-pura mau membeli dan bertanya mengenai jualan dan harganya. Namun, semakin aku mendekatinya, niat itu hilang dan aku terus berjalan begitu saja melewatinya sambil mengamati dagangan dan pak tua itu sendiri.

“Besok aku berjanji akan menemui pak tua itu, dan bertanya tentang keadaannya,” pikirku.

***

Keesokan harinya, di sore yang melelahkan itu, sehabis pulang kerja aku berjalan menuju jembatan penyeberangan. Tekadku sudah bulat untuk menemui pak tua penjual sekoteng itu. Namun, hal itu kandas ketika aku tak menemukannya.

Jalanan tidak lagi semacet sebelumnya. Tadi pagi aku sempat melihat peresmian jalan layang yang baru saja selesai dibangun. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.48 malam. Dengan segera aku menuruni jembatan penyeberangan itu lalu menghentikan bus metro mini yang akan mengarah ke stasiun kereta. Tak lama kemudian, hujan turun perlahan. Dan untungnya aku sudah duduk dalam bus metro mini.

“Syukurlah sudah lama aku merindukan hujan. Lagi pula ini bulan Oktober. Bulan dimana hujan seharusnya menjadi musim.” kataku dalam hati. “Tapi kenapa hujan kali ini berbarengan dengan hilangnya pak tua itu? Apkah dia seorang pawang?”

Upil

Seonggok upil bergelinding di tempat di antara dua jari-jemari: jempol dan kelingking. Dengan gerakan memutar kedua jari itu terus memadatkan upil itu sementara jari yang lain menambang lebih banyak upil yang masih tersisa, hingga akhirnya ia menjadi agak lebih besar dari sebelumnya.

Toto Codet, si pemilik upil itu, seringkali melakukan kebiasaan “memadatkan” upilnya setelah ia membersihkan lubang hidungnya. Sebetulnya, itu hal biasa. Pada umumnya bocah-bocah lain yang seumuran dengannya pun suka melakukannya. Namun, ada yang berbeda dari kebiasaan bocah-bocah lainnya, Toto Codet, bocah yang baru saja masuk sekolah dasar itu tidak pernah mengotori mejanya dengan upil yang telah ia padatkan.

“Itu kebiasaan yang buruk,” katanya ketika ia mengomentari kebiasaan teman-teman lainnya yang jorok itu. “Ibuku akan menceburkanku ke sumur jika aku melakukannya.” lanjutnya. Dari beberapa siswa lain, sebetulnya dialah anak yang paling bersih penampilannya. Sayangnya, dia begitu jahil.

Setiap kali gulungan upil itu telah selesai ia padatkan, ia tak segan untuk menembakkan upil itu seperti peluru dengan sentilan jarinya ke arah teman-temannya. Jika tepat sasaran, Toto Codet selalu riang gembira, tapi terkadang ia akan mengeluh seperti pecundang jika tembakan upilnya itu meleset. Ia selalu membayangkan, ketika ia menembakkan peluru buatannya itu, yang ada dipikiran kecilnya hanyalah sosok yang selama ini telah meninggalkan bekas luka di pipinya. Toto Codet ingin balas dendam, terhadap ayahnya sendiri, yang juga telah meninggalkan ibunya bertahun-tahun, pergi entah kemana.

Monumen Burung

Monumen burung yang perkasa itu kini terkulai lemah setelah ia terbatuk-batuk dalam suatu semak belukar yang jarang. Dan, sebagaimana semua monumen, ia tidak pernah mengeluarkan kata-kata ataupun suara. Begitupun ketika ia terbatuk. Hanya saja, setelah mengeluarkan dahak batuknya itu, kini ia meringkuk dan lebih menyerupai ulat berbulu yang pemalu.